Info Sekitar Kita

Ads 730 x 90

Apa sih yang dimaksud dengan Reklamasi Daratan? (dan kontroversi reklamasi teluk Jakarta) [Bag : II]

MENILIK
KONTROVERSI
REKLAMASI
BENOA DAN
REKLAMASI
JAKARTA

Memahami seluk beluk
dua proyek reklamasi
pantai yang masih menuai
pro kontra di Indonesia;
reklamasi Benoa dan reklamasi Jakarta.


Dua proyek reklamasi pantai yang masih menuai pro kontra di Indonesia; reklamasi Benoa dan reklamasi Jakarta. Sebelum mendukung salah satu pihak atau memberikan penilaian, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu seluk-beluk reklamasi yang sebenarnya.
Menurut Max Wagiu (2011). Tujuan reklamasi terbagi menjadi tiga bagian.
  1. Mendapatkan kembali tanah yang hilang akibat gelombang laut
  2. Memperoleh tanah baru di kawasan depan garis pantai untuk mendirikan bangunan yang akan difungsikan sebagai benteng perlindungan garis pantai
  3. Untuk alasan ekonomis, pembangunan atau untuk mendirikan konstruksi bangunan dalam skala yang lebih besar
Tidak ada tujuan negatif dari reklamasi secara garis besar. Hanya saja, reklamasi memang tidak boleh sembarangan dilakukan apalagi jika didasarkan pada kebutuhan komersial saja. Beberapa aspek penting yang harus diperhatikan sebelum memulai reklamasi.
  1. Aspek teknis meliputi hidro-oceanografi, hidrologi, batimetri, topografi, geomorfologi, dan geotekni.
    1. Hidro-oceanografi yaitu meliputi pasang surut, arus, gelombang, dan sedimen dasar laut.
    2. Hidrologi yaitu meliputi curah hujan, air tanah, debit air sungai atau saluran, dan air limpasan.
    3. Batimetri yaitu meliputi kontur kedalaman dasar perairan.
    4. Topografi yaitu meliputi kontur permukaan daratan.
    5. Geomorfologi yaitu meliputi bentuk dan tipologi pantai.
    6. Geoteknik yaitu meliputi sifat-sifat fisis dan mekanis lapisan tanah
  2. Aspek lingkungan hidup meliputi kualitas air laut, kualitas air tanah, kualitas udara, kondisi biota perairan
    1. Aspek sosial ekonomi meliputi demografi, akses publik, dan potensi relokasi.
      1. Demografi meliputi jumlah penduduk, kepadatan penduduk, pendapatan, mata pencaharian, pendidikan,kesehatan, dan keagamaan.
      2. Akses publik meliputi jalan dan jalur transportasi masyarakat serta informasi terkait pembangunan reklamasi.
      3. Potensi relokasi meliputi lahan yang bisa digunakan untuk relokasi penduduk serta fasilitas sarana dan prasarana lainnya.
    Area berlumpur
    Area berlumpur harus mendapatkan perhatian khusus karena cukup rawan. Beberapa dampak yang bisa terjadi di area berlumpur jika reklamasi tidak ditangani secara tepat, adalah sebagai berikut.
    1. Gelombang atau luapan lumpur (mud wave/mud explosion) yaitu areal yang mempunyai daya dukung yang rendah karena material dasarnya adalah lumpur.
    2. Penurunan lahan yang tidak merata yang diakibatkan karena ketebalan lumpur yang tidak sama atau tidak merata.
    3. Terjadinya likuifaksi yaitu tanah pasir yang kehilangan daya dukung akibat sistem pemadatan yang tidak sempurna, sehingga apabila trjadi getaran atau goncangan misalnya diakibatkan oleh gempa, maka lahan reklamasi dapat terbenam dalam tanah. Likuifaksi adalah proses atau kejadian berkurangnya tekanan efektif tanah secara drastis pada pasir halus seragam tidak padat yang terendam air, akibat beban sesaat (misalnya gempa). Beban sesaat tersebut manimbulkan kenaikan tekanan air pori tanah yang cukup besar, tekanan efektif tanah turun (jika mencapai nol, butiran tanah akan melayang) mengakibatkan kapasitas dukung tanah menurun sehingga tidak mampu lagi mendukung beban di atasnya dengan baik. Farameter yang mempengaruhi terjadinya proses likuifaksi adalah : jenis tanah dan gradasi butir (pasir halus, sedang, seragam), tingkat kepadatan (tidak padat), kondisi lingkungan (terrendam air), beban sesaat seperti gempa atau getaran.
    Perlu digarisbawahi bahwa urgensi reklamasi pantai sangat bergantung pada keadaan alam di kawasan tersebut. Reklamasi berarti revitalisasi, sehingga harus ada pemulihan yang terjadi di kawasan tersebut dilihat dari berbagai aspek. Bagaimana dengan keadaan alam Teluk Benoa dan Jakarta? Berikut adalah penjelasannya.
    Reklamasi Teluk Benoa

    Reklamasi Teluk Benoa

    Teluk Benoa terletak perairan lintas kabupaten, yaitu Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Wilayah Teluk Benoa termasuk ke dalam tiga kecamatan yaitu Denpasar Selatan, Kuta dan Kuta Selatan. Ekosistem Teluk Benoa terdiri dari dua ekosistem besar yakni Ekositem Mangrove dan Ekosistem Padang Lamun. Eksosistem Mangrove merupakan ekosistem utama yang berada di Perairan Teluk Benoa, yang dominan ditumbuhi oleh jenis prapat (Sonneratia alba) dan merupakan landmark sehingga perairan ini lebih dikenal dengan Prapat Benoa.
    Ekosistem padang lamun di Teluk Benoa dan perairan sekitarnya merupakan sebuah mata rantai dari sistem pesisir yang kompleks. Keberadaanya berfungsi sebagai habitat berbagai jenis biota laut dan sebagai sistem penyangga antara ekosistem mangrove dan terumbu karang. Padang lamun berkemampuan menjebak hara dan padatan tersuspensi yang berasal dari ekosistem mangrove serta menstabilkan sidimen untuk mencegah masuknya hara berlebihan yang dapat mendorong sidimentasi di ekosistem terumbu karang
    Rencana reklamasi benoa dicanangkan berdasarkan kondisi alam Teluk Benoa saat ini. Berikut adalah kerusakan yang semakin parah di kawasan Teluk Benoa.
    1. Terjadi penyumbatan di daerah hilir DAS (daerah aliran sungai) sekitar Teluk Benoa.
    2. Teluk Benoa sudah tidak lagi produktif karena keadaan teluk yang rusak parah. Hal ini diakibatkan endapan limestones bekas jalan tol yang tidak diangkat. Serta rembesan minyak dan oli dari kapal di pelabuhan Benoa yang terjadi setiap saat tanpa ada yang mengawasi. STerjadi pendangkalan yang amat sangat, dan sedimentasi sudah hampir menyentuh pesisir mangrove. Endapan lumpur rata-rata mencapai 16 meter.
    3. Terjadi luberan sampah di mana-mana akibat sumbatan DAS.
    4. Sudah tidak ada lagi biota laut, seperti ikan, kerang, udang dan lainnya yang bisa ditangkap nelayan di teluk saat laut surut
    5. Perputaran arus air laut terhambat di mulut Teluk Benoa, karena mulut Teluk yang terus menyempit hingga 75%.
    Berdasarkan kondisi kawasan Teluk Benoa tersebut, ide revitalisasi mulai dihembuskan. Sayangnya, yang terdengar hanyalah isu tentang reklamasi saja bukan revitalisasinya. Bahkan ada isu yang mengatakan bahwa reklamasi Benoa akan menenggelamkan Bali.
    Selain keadaan alam Tanjung Benoa, hal yang harus menjadi perhatian adalah keadaan masyarakat kawasan tersebut. Terdapat tujuh kelurahan di kawasan tersebut yang diperkirakan terkena dampak langsung maupun tidak langsung reklamasi Benoa. Kelurahan Benoa, Tanjung Benoa, dan Jimbaran di Kecamatan Kuta Selatan; Kelurahan Kedonganan, Kuta dan Tuban di Kecamatan Kuta; dan Kelurahan Pedungan di Kecamatan Denpasar Selatan.
    Mata pencaharian penduduk di tujuh kelurahan ini berbeda-beda. Tahun 2010, masyarakat kelurahan Benoa dan Tanjung Benoa, dan Jimbaran paling banyak bekerja di bidang pertanian, masyarakat Kedongan banyak bekerja di bidang perikanan, masyarakat di Pedungan dan Tuban paling banyak bekerja di bidang pemerintahan, dan masyarakat Tuban memiliki mata pencaharian yang lebih variatif dan tidak mendominasi.
    Teluk Jakarta

    Reklamasi Jakarta

    Kawasan yang menjadi konsentrasi adalah pantai utara Jakarta. Tujuh kelurahan pesisir pantai utara Jakarta yang kemungkinan menerima dampak reklamasi Jakartaadalah Kelurahan Kamal Muara, Kapuk Muara, Pluit, Penjaringan, Ancol, Tanjung Priok, Koja Utara, Kalibaru, Cilincing, dan Marunda. Berikut adalah kondisi alam daerah Pantai Utara Jakarta.
    1. Sebagian besar perumahan kawasan Pantai Utara Jakarta berada di bawah permukaan laut. Kawasan ini merupakan muara dari 13 sungai, sehingga rawan Banjir. Keadaan ini juga membuat daerah Pantai Utara Jakarta memiliki tingkat pencemaran yang tinggi.
    2. Geomorfologi kawasan ini tidak solid, sehingga daya dukung tanah rendah dan proses intrusi laut tinggi.
    3. Hidrologi laut dan pengaruh angin musim barat telah menimbulkan abrasi pantai dan pencemaran hutan bakau.
    Wacana reklamasi Pantai Utara Jakarta pertama kali digulirkan oleh Soeharto pada Maret 1995. Selain untuk mengatasi kelangkaan lahan di Jakarta, proyek reklamasi juga untuk mengembangkan wilayah Jakarta Utara yang tertinggal dibandingkan empat wilayah lain.
    Keputusan Pemprov DKI Jakarta saat itu bertabrakan dengan Kementerian Lingkungan Hidup bahkan sampai sekarang. Kementerian Lingkugan Hidup beranggapan bahwa reklamasi tersebut merusak ekosistem dan kondisi alam pantai, sedangkan Pemprov DKI Jakarta bersikeras agar reklamasi tetap dilaksanakan.
    Beberapa alasan Kementerian Lingkungan Hidup menolak reklamasi Jakarta adalah sebagai berikut.
    1. Reklamasi Jakarta mengakibatkan berbagai jenis pohon bakau di Muara Angke, dan aneka jenis hewan laut punah.
    2. Reklamasi Jakarta memperparah potensi banjir di Jakarta karena mengubah bentang alam dan aliran sungai di kawasan Jakarta Utara.
    3. Reklamasi Jakarta bisa memberikan dampak buruk untuk kehidupan para nelayan sekitar Pantai Utara Jakarta, sehingga menimbulkan pertanyaan keuntungan reklamasi Jakarta akan berpihak kepada siapa?
    Sementara alasan Pemprov DKI Jakarta mendukung reklamasi Jakarta adalah sebagai berikut.
    1. Reklamasi Jakarta akan memperlancar aliran banjir ke laut.
    2. Reklamasi Jakarta berfungsi sebagai bendungan menahan kenaikan permukaan air laut, dan sebagai sumber air bersih di Jakarta.
    3. Reklamasi Jakarta memecah gelombang dan mengurangi resiko abrasi.
    4. Pajak dan retribusi reklamasi akan digunakan untuk memperbaiki kawasan Pantai Utara Jakarta
    5. Pulau hasil reklamasi bisa menjadi kawasan wisata bahari yang lebih baik.
    Pro kontra reklamasi Jakarta masih berlangsung selama 10 tahun. Selama kurun waktu tersebut, reklamasi urung dilaksanakan dan belum banyak terjadi perubahan di kawasan tersebut.

    Sumber
    http://www.ruangreklamasi.com/fokus-reklamasi-teluk-benoa-dan-jakarta.html

    Artikel Terkait

    Tag : OOT
    0 Komentar untuk "Apa sih yang dimaksud dengan Reklamasi Daratan? (dan kontroversi reklamasi teluk Jakarta) [Bag : II]"

    Ads

    Ads 680 x 80
    Back To Top